Sabtu, 21 November 2020

Fa'il dan Naib Fail

 

مرفوعات الأسماء


Isim-isim yang dirafa’kan

Sebelumnya kita sudah membahas tentang pembagian i’rab. Sedikit mengulang, i’rab terbagi menjadi 4 yaitu rafa’, nashab, khafad dan jazm. Rafa’ dan nashab merupakan i’rab yang terdapat pada isim dan fi’il. Sedangkan khafad hanya terdapat pada isim, dan jazm hanya terdapat pada fi’il.

Rafa’ terdapat pada fi’il mudhari’ selama fi’il tersebut tidak dimasuki oleh amil nashab dan amil jazm.

Sedangkan kalimah isim yang dibaca rafa’ ada tujuh, yaitu:

1.      Fa’il. Contohnya : غَضَبَ زَيْدٌ

2.      Naib fa’il. Contohnya : ضُرِبَ زَيْدٌ

3.      Mubtada.  Contohnya : زَيْدٌ قَائِمٌ (kalimah “zaid” adalah mubtada)

4.      Khabar, contohnya : زَيْدٌ قَائِمٌ  (kalimah قَائِمٌ adalah khabarnya)

5.      Isim كان dan saudara-saudaranya. Contohnya : كَانَ اللهُ رَحِيْمًا

6.      Khabar إنّ dan saudara-saudaranya. Contohnya : إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ

7.      Isim yang mengikut pada isim marfu’ (isim yang dirafa’kan).

a.       Na’at (sifat). Contoh : جَاءَ الطَالِبُ المَاهِرُ

b.      Athof (penghubung). Contoh : جَاءَ الأُسْتَاذُ وَالطَالِبُ

c.       Taukid (penguat/penegasan). Contoh : جَاءَ الطَّالِبُ نَفْسُهُ

d.      Badal (pengganti). Contoh : جَاءَ الطَّالِبُ أَخُوْكَ

Kali ini kita fokus membahas tentang fa’il dan naib fa’il.

Fa’il

Fa’il dan naib fa’il merupakan dua kalimah isim yang dibaca rafa’. Fa’il merupakan isim yang dibaca rafa’, yang fi’ilnya disebutkan terlebih dahulu. Fi’il dan fa’il harus muthabaqah (sesuai) dari segi jenisnya. Jika failnya mudzakkar, maka fi’ilnya juga harus mudzakkar. Begitu pula jika failnya muannats, maka fi’ilnya juga harus muannats.

Contohnya : قَامَ الطَّالِبُ (seorang siswa telah berdiri)

قَامَ  : berdiri

الطَّالِبُ  : siswa

Nah, pada kalimat ini, kata الطَّالِبُ merupakan fa’il, karena merupakan pelaku dari pekerjaan “berdiri” dan dibaca rafa’. Tanda rafa’ nya adalah dhammah, karena isim mufrad. Seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya, bahwa dhammah merupakan tanda rafa’ untuk isim mufrad baik itu mudzakkar ataupun muannats.

Sudah paham? Baik, kita buat satu contoh lagi.

تَكْتُبُ فَاطِمَةُ الرِّسَالَةَ (Fatimah menulis surat).

Kata “تَكْتُبُ” adalah fi’il (pekerjaan). Siapa yang menulis? Ya, yang menulis adalah “Fatimah”, maka Fatimah adalah fa’il (pelaku). Sedangkan “الرِّسَالَةُ” adalah maf’ul bih (objek). Mengapa kata فَاطِمَةُ” berharkat dhammah? Karena merupakan isim mufrad.

Sampai disini bisa dipahami kan?

Ada dua pembagian fa’il, yaitu zhohir dan mudhmar. Dua contoh di atas adalah fail yang bentuknya zhohir (jelas), karena penulisannya jelas terlihat. Sedangkan fa’il yang mudhmar adalah fa’il yang berupa dhomir, yang terdapat pada contoh : ضَرَبْتُ، ضَرَبْنَا dan seterusnya, dimana fa’il nya berupa dhomir dan tidak dituliskan secara zhohir.

Naib Fa’il

Naib fa’il adalah isim yang dibaca rafa’, tanpa disebutkan fa’ilnya terlebih dahulu. Sebagaimana fa’il yang harus muthabaqah dengan fi’ilnya, naib fa’il pun harus muthabaqah.

·         Jika fi’ilnya adalah fi’il madhi, maka huruf awalnya didhommahkan, dan huruf sebelum akhirnya dikasrohkan. Contoh : كُتِبَتْ الرِّسَالَةُ (sebuah surat telah ditulis).

·         Jika fi’ilnya adalah fi’il mudhari’, maka huruf mudhara'ah didhommahkan, dan huruf sebelum akhirnya difathahkan. Contoh : يُفْتَحُ البَابُ (pintu sedang dibuka).

Kata “الرسالة” dan الباب” adalah naib fa’il. Fi’il dari keduanya muthabaqah dengan jenisnya (mudzakkar dan muannats). Pada dua kalimat di atas, tidak diketahui siapa fa’ilnya, oleh karena itu digunakanlah naib fa’il (yang pada awalnya adalah maf’ul) dan dibaca dengan rafa’.

 

Semoga Bermanfaat.

Marhamah Ulfa

Bengkalis, 22 November 2020

Senin, 16 November 2020

I'rab

 

الإعراب

(I’rab)

الإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيْرُ أَوَاخِرِ الكَلِمِ لاِخْتِلَافِ العَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظًا أَوْ تَقْدِيْرًا

“I’rab adalah perubahan di akhir kalimat karena disebabkan perbedaan ‘amil yang masuk, perubahan secara lafzhiy atau taqdiriy.”

Pengertian i’rab di atas dikutip dari salah satu kitab Nahwu fenomenal yang sudah tidak asing lagi bagi para santri, terutama santri pesantren salafiyah atau tradisional, yaitu kitab Matn Al Ajrumiyyah, karangan Ibnu Ajjurum. Jika tashrif adalah perubahan yang terletak di pertengahan kalimat, maka i’rab membahas tentang perubahan yang terjadi di akhir kalimat. Contohnya : perubahan bacaan dari الكِتَابُ (al kitaabu), menjadi الكِتَابَ  (al kitaaba).

Kalimat yang bisa dii’rab disebut dengan mu’rab. Sedangkan kalimat yang tidak bisa dii’rab disebut mabni. Dengan kata lain, lawan dari mu’rab adalah mabni. Sebagian fi’il dan isim adalah mu’rab, sebagian lagi mabni. Isim mabni adalah isim yang dalam posisi apapun, tidak akan mengalami perubahan. Misalnya isim dhamir, ketika rafa’ kita membacanya dengan هُوَ, tidak akan pernah ditemukan bacaannya menjadi هُوِ, dan sebagainya.

Huruf hukumnya mabni, karena tidak akan berubah bacaannya dimanapun posisinya. Contohnya : وَ, tidak akan ditemukan bacaan وِ. Oleh sebab itu, huruf waw disebut “mabni ‘ala al fathi/ dibina atas fathah).

Mengapa bisa berubah?

Hal ini disebabkan karena alasan-alasan, seperti didahului huruf nashab, huruf jar, atau posisi kalimat tersebut, seperti sebagai mubtada’, khabar, dan lain sebagainya. Perubahan tersebut adakalanya secara lafadz, dan adakalanya taqdir.

Apa itu perubahan lafdzi dan taqdiri?

Perubahan lafdzi, yaitu perubahan yang terjadi dalam ucapan, bisa dilihat dan dirasakan perubahannya. Sedangkan perubahan taqdir tidak terlihat dan tidak dirasakan perubahannya.

Contoh perubahan lafdzi : قَالَ زَيْدٌ رَأَيْتُ زَيْدًا -  مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

Perhatikan perubahan pada lafadz زَيْدٌ menjadi زَيْدًا. Dapat dilihat dan dirasakan ketika mengucapkannya.

Contoh perubahan taqdir : جَاءَ مُوْسَى رَأَيْتُ مُوْسَى مَرَرْتُ بِمُوْسَى

Pada contoh di atas, perubahan yang terjadi pada مُوْسَى  tidak terlihat dan tidak bisa dirasakan ketika mengucapkannya, meskipun posisi nya dalam suatu kalimat berubah-ubah. I’rab jenis ini ditemukan pada isim maqsur dan manqush. Masih ingat dengan dua istilah ini? Silakan lihat dan pahami lagi video yang sudah kita pelajari di awal-awal perkuliahan kemarin.

 

Pembagian I’rab

I’rab terbagi menjadi 4, yaitu rafa’, nashab, khafad dan jazm.

·         Rafa’ (رَفْعٌ)

Yaitu perubahan khusus yang ditandai dengan : dhammah (sebagai harakat asli), wawu, alif, dan nun (sebagai tanda pengganti).

Contoh :

الجَامِعَةُ وَاسِعَةٌ (pada kalimat al jaami’atu dan waasi’atun, tanda rafa’ nya adalah dhammah)

جَاءَ مُسْلِمُوْنَ (pada kalimat al muslimuuna, tanda rafa’ nya adalah huruf wawu)

 

      ·      Rafa’ memiliki empat tanda, dimana tanda-tanda tersebut digunakan pada tempat-                          tempat berikut:

ü  Dhammah : menjadi tanda bagi rafa’ pada isim mufrad, jamak taksir, jamak muannats salim dan fi’il mudhari’ mufrad.

ü  Wawu : menjadi tanda bagi rafa’ pada jamak mudzakkar salim dan al asma’ al khamsah (isim yang lima)

ü  Alif : menjadi tanda bagi rafa’ pada isim tasniyyah atau mutsanna.

ü  Nun : menjadi tanda bagi rafa’ pada fi’il mudhari’ yang lima (al af’al al khamsah),

·         Nashab

Memiliki lima tanda, dimana harakat aslinya adalah fathah.

ü  Fathah : menjadi tanda nashab pada isim mufrad, jamak taksir, dan fi’il mudhari’ mufrad yang didahului oleh salah satu amil nawasib (huruf-huruf nashab).

ü  Alif : menjadi tanda nashab pada isim yang lima (al asma’ al khamsah).

ü  Kasrah : menjadi tanda nashab pada jamak muannats salim.

ü  Ya : menjadi tanda nashab pada isim tasniyyah dan jamak mudzakkar salim.

ü  Hadzf nun/ menghilangkan nun : menjadi tanda nashab pada fi’il mudhari’ af’alul khamsah.

·         Khafad/jar

Khafad merupakan pembagian i’rab yang hanya terdapat pada isim, tidak ditemukan pada fi’il. Memiliki tiga tanda. Harakat aslinya adalah kasrah.

ü  Kasrah : menjadi tanda khafad pada isim mufrad munsharif, jamak taksir munsharif dan jamak muannats salim. Munsharif adalah isim yang boleh diberi tanwin.

ü  Ya : menjadi tanda khafad pada asma al khamsah, isim tasniyyah dan jamak mudzakkar salim.

ü  Fathah : menjadi tanda khafad pada isim alladzi la yansharifu (isim ghairu munsharif), yaitu isim yang tidak boleh diberi tanwin.

·         Jazm

Jazm merupakan pembagian i’rab yang hanya terdapat pada fi’il dan tidak akan ditemukan pada isim. Tanda jazm ada dua, yaitu :

ü  Sukun : menjadi tanda jazm pada fi’il mudhari’ mufrad yang shohih akhir. Fi’il yang shohih akhir adalah fi’il yang huruf akhirnya bukan merupakan huruf ilat (alif, waw dan ya).

ü  Hadzf : menjadi tanda jazm pada fi’il mudhari’ mufrad yang huruf akhirnya terdiri dari salah satu huruf ilat, atau dalam istilah sharf dikenal dengan fi’il mu’tal akhir.

 

Semoga bermanfaat.

Marhamah Ulfa

Bengkalis, 16 November 2020

 

Minggu, 06 November 2016

Kebijakan Politik Kerajaan Islam di Andalusia

Menjelang 711 M, pasukan yang terdiri dari suku Barber yang baru memeluk Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad bergerak memasuki Eropa. Penaklukan wilayah ini sepertinya tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari penguasa mereka karena secara politis kekuatan pemerintahan mereka pada kondisi yang lemah, dimana posisi rakyatnya sedang berseberangan dengan penguasanya. Sejak pertama kali berkembangnya kekuasaan dan kepemimpinan Islam di Andalusia, tampaknya telah memainkan peranan yang sangat besar dalam membangun citra budaya dan peradaban kemanusiaan di wilayah ini. Dan kemenangan ini merupakan awal dari peradaban Islam di Andalusia, yang selanjutnya disebut dengan Spanyol.

Rabu, 27 Juli 2016

Arti Sebuah Rencana

Dan pada akhirnya, segala rencana yang telah tersusun rapi pun bisa berubah jika Allah telah menjalankan skenario-Nya. Bukan berarti bahwa kita sebagai makhluk-Nya tidak diperintahkan untuk berusaha. Usaha, berdoa dan tawakkal.

Kenapa Harus Bahasa Arab? (Bag.I)


Kenapa harus Bahasa Arab?


Kuasai bahasa, maka kau genggam dunia. Rasanya tidak berlebihan jika muncul kalimat seperti itu. Bahasa adalah alat komunikasi, dimana kita dapat mengungkapkan isi pikiran dengannya. Apa yang ada di otak dapat...

Rabu, 19 Maret 2014

Fi'il shahih dan mu'tal



A.      Pengertian Fi’il Shahih dan Mu’tal
      Dipandang dari segi jenis hurufnya, fi’il terbagi menjadi shahih dan mu’tal.
1.      Fi’il Shahih
وهو ما كانت حروفه الاصول صحيحة وليست بحروف علة.
                  Yaitu fi’il yang huruf aslinya shahih dan bukan huruf ‘ilat.
                  Contoh : كتب، قرأ
2.      Fi’il Mu’tal
وهو ما فى حروفه الاصول شيء من حروف العلة.
                  Yaitu fi’il yang huruf aslinya salah satu dari huruf ‘ilat.
                  Contoh : وعد، وقى[1]
   

Jumat, 07 Maret 2014

Tafsir dan Takwil Al-Qur'an


A.           Pengertian Tafsir
          Secara bahasa, kata tafsir berasal dari fassara yang semakna dengan awdhaha dan bayyana, -dimana tafsir sebagai mashdar dari fassara- sebagaimana dengan idhah dan tabyin. Kata-kata tersebut dapat diterjemahkan kepada “menjelaskan” atau “menyatakan”. Al-Jarjani memaknai kata tafsir itu dengan al-kasyf wa al-izhar (membuka dan menjelaskan atau menampakkan). Istilah tafsir dalam makna membuka digunakan baik membuka secara konkret (al-hiss) maupun abstrak yang bersifat rasional. Al-Qur’an menggunakan istilah tafsir dalam makna penjelasan, seperti yang terdapat dalam Surah Al-Furqan (25) ayat 23
“tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”